Kebudayaan tempat lahir

Kebudayaan tempat lahir

1.       Ngurek
Daerah Cianjur kita kenal sebagai salah satu sentra tanaman padi. Salah satu jenis padi yang merupakan ciri khas dari Cianjur adalah beras pandan wangi yang mempunyai tekstur dan aroma padi berkualitas yang sangat khas.
Di hamparan luasnya sawah Cianjur, banyak ditemukan orang-orang yang mencari belut setiap sore hari. Hal ini biasa disebut ngurek dalam bahasa Sunda. Berbekal tali nilon yang sudah dililit dan diberi kail, masyarakat Cianjur biasa berburu belut pada sore setelah ashar hingga menjelang magrib.

2.       Mancing
Memancing secara luas adalah suatu kegiatan menangkap ikan yang bisa merupakan pekerjaan, hobi, olahraga luar ruang (outdoor) atau kegiatan di pinggir atau di tengah danau, laut, sungai dan perairan lainnya dengan target seekor ikan. Atau bisa juga sebagai kegiatan menangkap ikan atau hewan air tanpa alat atau dengan menggunakan sebuah alat oleh seorang atau beberapa pemancing.
Namun dalam praktik dan dari hasil buruannya, tidak semua kegiatan memancing ikan selalu membuahkan hasil seekor ikan, memancing ikan dapat juga diartikan tidak saja untuk menangkap ikan namun juga kodok, penyu, ikan, cumi-cumi, gurita, bahkan ikan paus.

3.       Ngaos atau mengaji
Dimana anak kecil dari ashar sampe pukul 5 mengaji dan dilanjut lagi setelah magrib sampai setelah isya. Maka dalam waktu menjelang magrib di lingkungan ramai dengan anak anak yang baru pulang mengaji.

4.       40 cukuran bayi yang baru lahir
Akar rambut terbentuk sejak janin berusia sekitar 8 minggu dan terus berkembang hingga lahir. Rambut pertama ini diistilahkan dengan “velus”. Meski tak bisa digeneralisasi, rambut bawaan ini biasanya sangat tipis. Sejak minggu-minggu pertama kelahirannya hingga 12 minggu kemudian biasanya rambut halus ini akan rontok dengan sendirinya. Kendati ada juga yang kerontokannya sangat sedikit, seakan-akan tidak berkurang sama sekali.
Mencukur rambut bayi saat genap berusia 40 hari memang tidak ada pertimbangan medisnya. Jadi, sekadar meneruskan tradisi. Pilihan waktu ini cukup beralasan. Saat bayi berumur 40 hari umumnya kondisi ibu sudah pulih seusai melewati proses persalinan yang sangat melelahkan secara fisik dan psikis. Bayi pun sudah cukup “kuat” dan siap bertemu banyak orang. Terlebih lagi, banyak orangtua yang takut mencukur rambut bayinya sebelum berumur 40 hari. Alasan mereka, kepala si kecil masih terasa sangat lunak dan terlihat amat mungil.
Memang sih tidak ada keharusan untuk menggunduli kepalanya sampai licin plontos. Namun dari segi kesehatan, hal ini ternyata memberi banyak manfaat. Berikut beberapa di antaranya:


a.       Membersihkan lemak

Saat melewati jalan lahir, banyak lemak dan “kotoran” rahim ibu yang menempel di sekujur tubuh bayi, termasuk di rambutnya. Dengan mencukur rambut bayi, sisa-sisa lemak tersebut diharapkan akan ikut terangkat. Belum lagi kotoran yang kerap menempel setelah bayi lahir, seperti gumoh di bantal yang kemudian menempel di rambutnya. Dengan dikeramas saja mungkin tidak cukup hingga tumpukan lemak dan kotoran tersebut harus dibersihkan dengan cara mencukur rambutnya.

b.       Biar tak mudah teriritasi

Kepala plontos bayi akan memudahkan ibu untuk mengamati kalau-kalau ada sesuatu yang tak diharapkan, seperti iritasi, bisul, luka dan sebagainya. Cukur rambut bahkan menjadi keharusan bila sudah terjadi infeksi, misalnya ada bisul di kepalanya. Untuk mencegah terjadinya infeksi lebih lanjut dan mempermudah pengobatan, sebaiknya kepala anak dalam keadaan “bersih” dari rambut alias plontos.

c.       Bersifat “mendinginkan”

Bayi-bayi yang kebetulan tinggal di daerah panas atau suhu udara rata-ratanya tinggi pasti akan merasa lebih nyaman dengan kepala plontosnya. Hembusan angin yang langsung mengenai pori-porinya mampu mengurangi kegerahan.

d.       Akan Tumbuh Lagi

Banyak orangtua yang merasa sayang mencukur rambut bayinya. Apalagi kalau rambut tersebut terlihat lebat dan hitam legam. Padahal tidak seharusnya orangtua khawatir. Toh, meski dicukur habis,

rambut tersebut akan tumbuh lagi. Sedangkan mengenai lebat atau tidaknya rambut saat tumbuh kembali jelas terkait erat dengan faktor genetik. Orangtua yang berambut lebat tentu saja lebih berpeluang memiliki bayi yang juga memiliki rambut lebat dibanding orangtua yang rambutnya tipis. Demikian halnya dengan rambut lurus, berombak, keriting, pirang, dan sebagainya.

Mitos yang mengatakan setelah dicukur rambut akan tumbuh lebih lebat pun tidak ada pembenarannya secara ilmiah. Banyak faktor yang memengaruhi lebat tidaknya rambut. Selain faktor genetik tadi, juga faktor gizi, lingkungan, hormonal dan sebagainya. Banyak kok, anak-anak yang sewaktu kecil rambutnya tipis, tapi karena rajin dirawat, setelah dewasa rambutnya terlihat begitu tebal dan berkilau. Intinya, mencukur rambut bayi tidak ada ruginya meskipun tidak diharuskan secara medis.



e.       CARA MEMOTONG RAMBUT

Kalau memotong rambut ini adalah pengalaman pertama, maklumi bila muncul rasa takut dan ragu. Untuk mengatasinya, Anda bisa minta bantuan pada orang-orang yang sudah lebih berpengalaman. Namun kalau ingin mencobanya sendiri, tak ada salahnya. Toh, akan selalu ada saat pertama bukan? Kuncinya adalah percaya diri disertai langkah-langkah berikut:

-          Sebelum dipotong rambutnya, ada baiknya bayi sudah dikeramasi terlebih dahulu. Dengan kondisi kepala yang bersih, diharapkan kalau sampai ada luka tidak menyebabkan infeksi.

-          Pangku bayi dan sebaiknya bayi dalam keadaan tidur saat dipotong rambutnya. Ini untuk meminimalkan gerakan-gerakan aktifnya. Kalau tidak, hasil cukuran sulit menjadi rapi dan bukan tak mungkin gunting yang digunakan akan melukainya.

-          Gunakan 1 tangan untuk memegang gunting, sementara 1 tangan lagi untuk menjumput rambut. Kalau masih juga takut, lakukan oleh 2 orang. Yang seorang memangku bayi dan yang seorang lagi menggunting rambutnya.

-          Basahi rambut bayi secukupnya dengan menggunakan kain kasa/kapas (tidak perlu sampai basah kuyup). Tujuannya supaya rambut menjadi lemas dan mudah digunting.

-          Potong rambut sependek mungkin dengan menggunakan gunting yang ujungnya tumpul.

-          Untuk membersihkan sisanya, gunakan alat cukur rambut yang masih baru. Regangkan lipatan kulit kepala dengan jari telunjuk dan jari tengah, baru kemudian mencukurnya.

-          Cukur secara pelahan. Gunakan feeling untuk memastikan cukuran tersebut tidak akan melukai kepalanya.

f.        SEANDAINYA SAMPAI TERLUKA

Walau sudah diusahakan sehati-hati mungkin, bisa saja ada goresan kecil di kepalanya akibat terkena pencukur rambut. Kalau lukanya hanya tipis, segera beri obat antiseptik dengan menggunakan cotton bud. Namun jika sampai berdarah atau orangtua ragu akan kondisi luka yang tipis sekalipun, lebih baik jika segera membawa si kecil ke dokter. Sebenarnya, kasus luka sampai berdarah sangat jarang bahkan hampir tidak pernah terjadi.
g.       TETAP BERSIHKAN TIAP HARI

Setelah kepalanya plontos, biasanya akan terlihat “noda” yang membentuk “pulau-pulau” kecil di kulit kepalanya. Munculnya lemak atau “sarap” yang dalam bahasa medis diistilahkan dengan raddle cap atau dermatitis seboroik ini adalah akibat meningkatnya aktivitas kelenjar sebasea disamping pengaruh hormon androgen ibu saat hamil. Bila dibiarkan saja, tumpukan lemak ini akan menghambat sirkulasi keringat yang mengakibatkan munculnya gangguan kulit berupa biang keringat, bisul, abses dan sejenisnya. Bahkan dalam jangka panjang, bukan tidak mungkin kepala bayi akan menjadi “ladang” yang subur bagi berkembangnya aneka jenis bakteri. Dengan demikian, meski telah dicukur gundul, orangtua tetap harus rajin menjaga kebersihan kepala bayi.

h.       CARA MEMBERSIHKAN KEPALA BAYI

-          Jika kulit kepala bayi mengalami dermatitis seboroik, sebaiknya bawa bayi ke dokter untuk mendapatkan obat antiseboroik. Gunakan obat ini dengan cara mencampurkannya bersama minyak kelapa (bukan minyak goreng). Oleskan secara merata di seluruh kepalanya dan biarkan semalaman.

         Pagi harinya dengan menggunakan sisir rapat kikis lemak tersebut secara perlahan agar jangan sampai melukai kulit kepalanya.

         -Supaya tetap terjaga kebersihannya, keramasi kepala si kecil dengan sampo bayi secara teratur. Gosok perlahan dengan gerakan lembut ke seluruh kulit kepalanya lalu bilas sampai bersih.

i.         LANUGO

Selain rambut yang tumbuh di kepala, ada juga rambut yang tumbuh di sekujur tubuh bayi. Dalam bahasa medis rambut-rambut halus ini diistilahkan dengan lanugo. Lanugo tumbuh di sekujur tubuh bayi kecuali bibir, telapak tangan dan kaki, serta jari-jari, kuku, dan daerah sekitar kelamin. Rambut halus ini mulai tumbuh sejak janin berusia 5 bulan dalam kandungan.

Umumnya rambut halus ini akan rontok dengan sendirinya saat janin berusia 7-8 minggu dalam kandungan. Tak heran kalau bayi-bayi yang terlahir prematur biasanya masih “membawa” lanugo dalam jumlah banyak pada waktu dilahirkan. Meski tentu saja keadaan ini tidak berlaku umum bagi semua bayi prematur.

Bayi yang lahir cukup bulan pun mungkin saja tubuhnya masih “diselimuti” lanugo saat dilahirkan. Umumnya rambut halus ini akan rontok sendiri setelah seminggu dilahirkan. Beberapa ada yang baru rontok setelah berusia 5 minggu.



Upacara cukuran telah membudaya dalam masyarakat Indonesia, hal ini dimaksudkan untuk membersihkan atau menyucikan rambut bayi dari segala macam najis. Upacara cukuran atau marhabaan juga merupakan ungkapan syukuran atau terima kasih kepada Tuhan YME yang telah mengkaruniakan seorang anak yang telah lahir dengan selamat. Upacara cukuran dilaksanakan pada saat bayi berumur 40 hari.
Pada pelaksanaannya bayi dibaringkan di tengah-tengah para undangan disertai perlengkapan bokor yang diisi air kembang 7 rupa dan gunting yang digantungi perhiasan emas berupa kalung, cincin atau gelang untuk mencukur rambut bayi. Pada saat itu mulailah para undangan berdo’a dan berjanji atau disebut marhaban atau pupujian, yaitu memuji sifat-sifat nabi Muhammad saw. dan membacakan doa yang mempunyai makna selamat lahir bathin dunia akhirat. Pada saat marhabaan itulah rambut bayi digunting sedikit oleh beberapa orang yang berdoa pada saat itu.

Kebudayaan mecukur rambut bayi ini merupakan suatu nilai yang telah dilakukan secara turun temurun, sehingga apapun kepercayaan yang di anut di Indonesia, hal ini tetap dilakukan. Kebudayaan, pada dasarnya adalah hasil karya, cipta, rasa, karsa manusia.  Dan setiap kebudayaan mempunyai maksud tersendiri yang berisikan nilai-nilai. Nilai-nilai inilah yang mengambil peran dalam setiap langkah manusia dalam melakukan sesuatu.

5.       Akekahan
Akikah (bahasa Arab: عقيقة, transliterasi: Aqiqah) adalah pengurbanan hewan dalam syariat Islam, sebagai bentuk rasa syukur umat Islam terhadap Allah SWT. mengenai bayi yang dilahirkan.[1] Hukum akikah menurut pendapat yang paling kuat adalah sunah muakkadah, dan ini adalah pendapat jumhur ulama menurut hadits.[2][3] Kemudian ada ulama yang menjelaskan bahwa akikah sebagai penebus adalah artinya akikah itu akan menjadikan terlepasnya kekangan jin yang mengiringi semua bayi sejak lahir.[4]

6.       Beras merah beras putih setelah di beri nama
Masa kecilku di sekitar tahun 1975-1985-an masih sering menyaksikan beberapa pendudukan desa Melong, dan beberapa desa lainnya, di Cimahi Selatan kabupaten Bandung, menyuguhkan hidangan berupa bubur beureum (bubur merah) dan bubur bodas (bubur putih). Kebiasaan atau adat-istiadat ini dikenal oleh masyarakat Sunda Priangan sebagai tradisi ngabubur beureum jeung ngabubur bodas. Bubur ini, umumnya, dihidangkan bersamaan dalam sebuah piring kecil yang porsinya dibagi dua, yakni setengah untuk bubur merah, setengah lagi untuk bubur putih. Bubur merah terbuat dari beras ketan yang diberi gula merah [umumnya gula yang berasal dari gula kawung (aren)]. Sedangkan bubur putih terbuat dari beras yang diberi garam dan bumbu secukupnya.

Umumnya, saat itu, kedua jenis bubur ini dapat ditemui pada beberapa moment, yakni:

Pada saat memberi nama seorang bayi dan atau mengganti nama seseorang. Oleh karena itu, terdapat pertanyaan dikalangan masyarakat Sunda Priangan “geus ngabubur beureum jeung ngabubur bodas atawa acan? [sudah membuat bubur merah atau bubur putih atau belum?] pertanyaan ini umumnya muncul ketika menanyakan nama seorang bayi yang baru berumur harian atau dilontarkan kepada seseorang yang mengganti namanya. Keluarga sang bayi, umumnya orang tuanya, membagikan kedua jenis bubur ini untuk menunjukkan bahwa bayi mereka telah diberi nama.
Pada saat perayaan 10 Muharam atau dikenal dengan ‘asyura. Buburnya dikenal juga dengan bubur sura. Bubur ini, saat itu, umumnya dibagikan pada pagi hari, setelah perayaan “sura” dan dibagikan oleh orang yang cukup “berada”, terutama para kyai, pimpinan pondok pesantren, marabot (imam mesjid), atau para kara-dermawan.
Pada saat mendirikan rumah; sebagian orang Sunda menyebutnya “pada saat ngadegkeun imah”.
Sekalipun tradisi ini diklaim merupakan tradisi yang sudah berurat-akar di kalangan masyarakat Sunda Priangan sebagai warisan dari nenekmoyang, tetapi mengenai asal-usul kemunculan tradisi ini masih belum jelas. Tapi umumnya sepakat bahwa tradisi muncul ketika Jawa Bagian Barat terpengaruh oleh Islam, terlebih terkait dengan Bubur Syura yang disajikan pada peringatan ‘Asuraan, yang dikaitkan dengan peristiwa “Syahidnya Sayyidina Husein, cucu Rasulullah, di Padang Karbala.

Terdapat pemaknaan simbolik terhadap keberadaan kedua jenis bubur ini, terutama ketika dihubungkan dengan moment-moment penyajiannya. Kedua bubur ini melambangkan keberanian dan kesucian; Merah (simbol dari keberanian) dan putih (simbol dari kesucian). Pada moment pemberian nama, kedua bubur ini merupakan simbol dari harapan keluarga, agar kelak si jabang bayi memiliki keseimbangan antara sifat berani [karena benar] dan kesucian (pemihakan pada kebenaran dan orang-orang lemah, mushtadh’afin).

Sedangkan pada moment10 Muharram atau Sura, kedua jenis bubur ini dihadirkan sebagai bentuk napak tilas terhadap peristiwa Syuhada-nya Sayyidina Husein (cucu Nabi Muhammad) di Padang Karbala oleh pasukan Yazid. Bubur ini menyimbolkan keberanian dan darah syihada dari Sayyidina Husein dan pasukannya yang melakukan puputan (perang terakhir, sekalipun dengan kekuatan tak berimbang). Sedangkan bubur putih menyimbolkan kesucian atau kebenaran yang dibela Sayyidina Husein. Pemaknaan ini jelas merupakan data khas Islam.

Selebihnya, kedua bubur ini pun seringkali diinisiasi sebagai napak tilas pada peristiwa banjir Nabi Nuh. Kala penyelamatannya dari banjir Bah, Nabi Nuh dan pengikutnya sempat hampir kehabisan cadangan makanan. Oleh karena itu, penghematan makanan dengan cara mencampur bahan makanan dilakukan, termasuk menyajikan kedua jenis bubur ini.

Sedangkan pada moment pendirian rumah, kedua bubur ini sering disandingkan dengan bendera merah putih serta makanan lainnya. Maksud dari si empunya rumah adalah untuk berbagi dengan tetangga sebagai ekspresi dari rasa syukur dikarunia oleh Allah berupa kemampuan mendirikan rumah. Kedua bubur ini pun, menurut sebagian kalangan tua, menyimbolkan pendidikan terhadap tanah air [merah: tanah; air:putih], terutama dalam konteks perlawanan [diam] terhadap kolonial Belanda dan Jepang. Ketika kain untuk bendera merah putih masih terbatas, maka bubur merah dan putih dijadikan media penyimbolan bagi lambang negara Indonesia.


Pada ketiga momen tersebut, penggunaan kedua jenis bubur ini, pada saatnya, tidak dapat dilepaskan dari fungsinya sebagai media pendidikan penanaman kesadaran nilai yang digunakan masyarakat Sunda. Kini fungsi ini diambil alih dengan media lain, yang belum tentu memiliki efektivitas yang sama. Tradisi ini kini sudah mulai memudar di kalangan pemakainya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INOVASI 4.3

INOVASI 4.1

INOVASI SI 3.1