Tugas 11
Bagaimana pandangan Anda tentang cinta kasih menurut
pandangan/ajaran agama ?
Hubungan manusia dengan keadilan dapat dibagi menajdi :
- Keadilan Legal
/ Moral
- Keadilan
Distributif
- Keadilan
Komunikatif
Jelaskan dan berikan implementasinya !
Apa yang anda ketahui tentang sesuatu yang berkaitan dengan
kejujuran & kecurangan ?
Jawaban :
Konsep Cinta dan Kasih Sayang dalam Islam
Kasih sayang merupakan salah satu kesempurnaan yang ada pada
diri manusia. Dengan rasa kasih sayang, seseorang dapat merasakan penderitaan
yang dirasakan oleh orang lain. Dan dengan rasa kasih sayang tersebut mereka
berusaha untuk menghilangkan penderitaan yang dirasakan oleh orang lain.
Tanpa rasa kasih sayang manusia akan turun derajatnya
sehingga setara dengan hewan. Bahkan lebih buruk dari hewan, karena hewan masih
memiliki rasa kasih sayang seperti seekor induk ayam rela mengerami telur-telur
hingga menetas.
Ketika telah lahir, anak-anaknya pun tidak dibiarkan begitu
saja. Mereka diajari untuk mencari makan, bertahan untuk hidup, dan lain
sebagainya. Oleh karena itu, kekejaman merupakan kemunduran dari fitrah manusia
dan merosotkan kedudukannya ke tingkat nafsu hayawaniyah (hewani) dan bahkan
lebih jauh lagi ke tingkat benda yang tidak berkesadaran dan tidak bergerak.
Merupakan suatu yang
tidak dapat dipungkiri bahwa sifat ini dapat membuat orang turut serta
merasakan penderitaan orang lain, turut merasa gembira bila melihat orang lain
senang yang dapat mempersatukan individu manusia menjadi satu tubuh, satu hati,
dan satu semangat.
Apabila sifat ini telah tertanam dalam jiwa seseorang, maka
betatapun besarnya kesulitan yang dihadapi tentu dapat teratasi. Tetapi
sebaliknya, betapapun bagus dan rapinya sistem pemerintahan yang ada di dunia
ini tidak akan banyak manfaatnya jika tidak didasari dengan rasa kasih sayang.
Sebagai agama, Islam mengakui adanya prinsip-prinsip
kemanusiaan. Manusia bukanlah malaikat yang selalu berbuat kebaikan. Dan
manusia juga bukan syetan yang selalu melakukan dan mengajak kepada hal-hal
yang buruk. Akan tetapi, manusia adalah makhluk yang memiliki daya tanggap dan
perasaan, mempunyai keinginan, hasrat dan harapan.
Ungkapan dan ekspresi
kasih sayang adakalnya nampak formal dan adakalanya tidak terlihat (abstrak)
karena kasih sayang adalah cerminan dan refleksi hati. Kasih sayang bukanlah
rasa kasihan tanpa disertai akal pikiran yang sehat (rasional) dan bukan pula
rasa kasihan tanpa mengindahkan keadilan dan ketertiban.
Bukan kasih sayang yang membabi buta, tanpa batas sehingga
menyepelekan norma dan tanpa dasar ajaran yang jelas. Kasih sayang justru
merupakan ungkapan perasaan yang wajib mengindahkan dan menghargai kewajiban
tersebut di atas.
Idealitas kasih sayang yang dituntut oleh agama ialah
seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw. Beliau telah mengajarkan
bahwa ukuran kasih sayang optimal yang semetinya diberikan kepada makhluk Allah
adalah seperti kasih sayang pada diri sendiri.
Sebaliknya jika kasih saying pada diri sendiri tidak
berbanding lurus dengan kasih sayuang pada orang lain, Rasulullah menilainya
dengan sebutan “tidak beriman”. Dengan demikian, kualitas keimanan menunjukkan
kepekaan rasa untuk mengasihi orang lain.
Sebagaimana hadis
yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
حَدَّثَنَا
مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى
عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ
أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَعَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ
قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ
أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ
مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Bentuk kasih sayang Rasul sangat terlihat dari keseharian
beliau. Dalam suatu hadis yang diriwiyatkan oleh Abu Hurairah ra. Nabi
bersabda:
حدثنا أبو اليمان: أخبرنا
شعيب، عن الزُهري: حدثنا
أبو سلمة بن عبد
الرحمن: أن أبا هريرة
رضي الله عنه قال:
قبل رسول الله صلى
الله عليه وسلم الحسن
بن علي وعنده الأقرع
بن حابس التميمي جالساً،
فقال الأقرع: إن لي
عشرة من الولد ما
قبلت منهم أحداً، فنظر
إليه رسول الله صلى
الله عليه وسلم ثم
قال: من لا يرحم
لا يرحم
Tampak jelas rasa kasih sayang atau cinta Rasul yang pada
konteks hadis tersebut ditujukan kepada Hasan bin Ali ra. cucu beliau. Ini
merupakan suatu pelajaran bagi sahabat Aqra’ bin Habis, karena ia tidak pernah
mengekspresikan rasa kasih sayangnya kepada sepuluh anaknya. Sehingga nabi
menyimpulkan bahwa orang yang tidak mengasihi orang lain maka ia tidak akan
dikasihi.
Pernyataan ini memiliki makna yang sangat luas. Manusia
sebagai makhluk sosial harus memiliki rasa kasih sayang kepada setiap makhluk
yang ada di muka bumi. Sangat aneh kemudian jika ada orang yang tidak memiliki
rasa kasih sayang dalam dirinya, karena setiap hari ia pasti berinteraksi
dengan lingkungannya, baik itu manusia yang lain, hewan, atau tumbuhan. Oleh
sebab itu, sudah sepatutnya bagi setiap individu untuk memupuk rasa kasih
sayang dalam diri agar senantiasa terjadi hubungan timbal balik yang baik antar
sesama makhluk.
حَدَّثَنَا
ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا
سُفْيَانُ عَنْ عَمْرِو بْنِ
دِينَارٍ عَنْ أَبِي قَابُوسَ
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ
يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“Para pengasih akan dikasihi oleh
Allah Yang Maha Pengasih, Mahasuci, dan Mahatinggi. Kasihilah makhluk yang ada
di muka bumi, niscaya yang ada di langit (malaikat) akan mengasihi kalian.”
Dalam buku Nasaihul ‘Ibad, Imam Nawawi Al-Bantani
menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan makhluk yang ada di muka bumi itu tidak
hanya manusia, tetapi juga termasuk binatang yang kita tidak diperintahkan
untuk membunuhnya.
Kita dianjurkan untuk mengasihi sesama manusia juga makhluk
hidup lainnya dengan memberikan kasih sayang dan mendoakan mereka supaya
mendapat rahmat Allah serta ampunan-Nya. Dengan begitu, malaikat yang ada di
langit, yang jumlahnya lebih banyak daripada penduduk bumi akan mengasihi kita.
Namun, kita tidak diperkenankan untuk mendoakan seluruh kaum
muslim supaya diampuni seluruh dosanya. Begitu pula kita dilarang mendoakan
seorang yang sangat fakir agar memperoleh uang sebanyak 100 dinar, sementara
tidak ada jalan atau upaya yang mudah baginya untuk bisa meraih uang tersebut,
dengan mengatakan bahwa itu termasuk bentuk kasih sayang terhadap sesama
makhluk, sebab yang demikian jelas bertentangan dengan nash-nash syara’.
Selanjutnya, yang menjadi hal yang menjadi titik tekan
adalah korelasi antara iman dan kasih sayang atau cinta. Dalam suatu teks hadis
yang berbunyi:
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ
بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ
بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ
يُحَدِّثُ عَنْ أَنَسِ بْنِ
مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ
حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ
مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Artinya: “Tidak sempurna iman salah seorang kalian sehingga
Aku lebih dicintai olehnya dibanding anak, orang tua, dan manusia lainnya.”
(HR. Muslim)
a) Mencintai Allah
Dapat kita peroleh informasi bahwa kesempurnaan iman seseorang
ialah ketika ia mampu memberikan cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi
cintanya kepada selain beliau. Upaya yang dapat dilakukan untuk memperoleh
cinta Ilahi ialah dengan menumuhkan cinta dengan benar-benar beriman kepada
Allah.
Keimanan yang sesungguhnya adalah keimanan yang mampu
menggerakkan kesadaran baru kepada suatu tindakan, sikap dan perilaku yang
mendatangkan ridha Allah. Cinta akan tumbuh dari rasa percaya (iman) sebagai
benih cinta tersebut.
Ketika rasa cinta kepada Allah telah bersemayam dalam hati,
secara otomatis cinta kepada makhluk-Nya pun akan muncul dengan sendirinya.
Cinta seorang hamba kepada Allah dapat diketahui dengan bagaimana cara ia
berbakti kepada-Nya.
Tanda-tanda orang yang cinta kepada Allah adalah sebagai
berikut:
i. Ia senantiasa mengikuti ajaran-ajaran Nabi
Muhammad, karena dengan demikian berarti ia telah mencintai Allah. Hal ini
sesuai dengan firman Allah dalam Surat Ali Imran: 31, yang artinya: Katakanlah:
“Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi
dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
ii. Ia senantiasa ikhlas dalam
mematuhi segala perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya, karena
ikhlas merupakan ruhnya ibadah. Cinta kepada Allah memerlukan pengorbanan yang
betul-betul ikhlas, yakni tidak merasa berat dalam mengabdikan diri (beribadah)
kepada-Nya. Cinta kepada Allah merupakan nyawanya iman dan merupakan syarat
sahnya iman.
b) Mencintai Nabi
Adapun dalam hal mencintai Rasulullah saw. hal ini tentu
lebih mudah bagi orang-orang yang hidup semasa dengan nabi, terutama para
sahabat. Namun, akan menjadi lebih sulit bagi orang-orang yang hidup pada masa
setelah beliau wafat seperti kita yang hidup berjarak belasan abad darinya.
Sebenarnya yang paling diharapkan oleh nabi dengan perkataan
beliau pada hadis tersebut ialah cinta umatnya kepadanya itu dapat
direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena pada dasarnya cinta
menimbulkan kecenderungan dalam jiwa terhadap apa yang dilihatnya atau apa yang
diduganya baik.
Cinta kepada Nabi Muhammad saw. merupakan salah satu
kewajiban bagi umat Islam. Cinta kepada nabi merupakan kelanjutan dari rasa
iman kepada-Nya. Keimanan seseorang seakan masih diragukan jika belum bisa
mencintai beliau. Cinta kepada nabi bisa menjadi inner power bagi seorang
muslim untuk memperjuangkan misi-misinya.
Dengan cinta, seseorang mau berkorban demi kekasihnya.
Jangankan hanya harta, waktu, dan pikiran, nyawa pun akan dikorbankan demi
kekasihnya. Begitu pula para sahabat nabi ketika mencintai Rasulullah pada
zaman dahulu.
c) Cinta Kepada Selain Allah dan Rasul-Nya
Orang tua dan anak merupakan seseorang yang sangat dekat
dengan kehidupan kita. Orang tua kita telah berusaha dengan semaksimal mungkin
supaya kita dapat tumbuh menjadi anak yang salih yang pada akhirnya dapat
berbakti kepadanya. Anak adalah buah hati yang tidak ada orang tua manapun
ingin anaknya hidup menderita.
Tidak salah jika nabi menggunakan dua hal ini menjadi
bandingan terhadap cinta kepadanya. Rasulullah tidak ingin cinta seorang anak
kepada orang tuanya dan sebaliknya mengakibatkan lalai untuk beribadah kepada
Allah swt. Merupakan kesalahan yang fatal jika seorang anak mematuhi orang
tuanya dalam hal keburukan.
Juga bukan suatu yang benar tatkala orang tua melakukan
hal-hal yang dilarang oleh agama demi kebutuhan anaknya. Jadi, penting untuk
setiap orang mengendalikan rasa cinta yang ada pada dirinya sehingga tidak
melampaui batas dan menimbulkan efek yang buruk baik kepada diri sendiri maupun
kepada orang lain.
Hal yang paling membahagiakan adalah kala kita bisa saling
mencintai dengan sesama kita, dimana cinta itu berdasarkan kemuliaan dan
keagungan. Dengan cinta tersebut, kita akan diantarkan menuju singgasana
tertinggi yang penuh kenikmatan. Singgasana itu berada di dalam istana di atas
istana, cinta di atas cinta, yaitu cinta yang tumbuh karena cinta dan ketaatan
kepada-Nya.
“Niscaya akan mendapatkan
kecintaan-Ku untuk dua insan yang saling menyayangi karena Aku, dua insan yang
duduk bersama karena Aku, dua insan yang saling mengunjungi karena Aku, dan dua
insan yang tolong menolong karena Aku.”
Ini adalah sebuah hadis Qudsi yang memberikan kabar baik
tentang hikmah dan manfaat cinta yang berlandaskan kebaikan yang meniatkan
segala yang dilakukan untuk mengharapkan ridha Allah swt.
Cinta seharusnya dapat menjadi jembatan bagi iman, karena
dengan cinta hati dan jiwa manusia yang begitu beragam warna dan rasa serasa
terhubung dengannya. Cintalah yang kemudian membawa kita pada silaturahim dan
saling bertaaruf satu sama lain.
Allah telah menjamin hamba-Nya yang mampu mencintai
seseorang semata-mata mengharap ridha-Nya dengan keteduhan dan kenyamanan kelak
di hari kiamat.
Salah satu tanda kebesaran Allah adalah diciptakannya segala
sesuatu dengan sistem keteraturan dan keseimbangan yang sangat hebat, apalagi
tentang cinta. Cinta telah dilahirkan untuk sebuah konsistensi dan teratur
bersemayam dalam hati.
Keindahan cinta akan terus terpancarkan bila sistem hati
dijaga dengan baik keteraturannya, sehingga cemburu, curiga dan patah hati
tidak akan pernah ada.
d) Mengendalikan Cinta
Setiap orang yang dilanda cinta sesama makhluk tentu merasa
sangat bahagia, meski tidak jarang ada juga yang berakhir dengan duka dan
kecewa. Oleh sebab itu, harus bisa mengendalikan cintanya agar cintanya kepada
sesama makhluk tidak sampai mengabaikan cintanya kepada sang Pencipta, Allah
swt.
Cinta adalah perwujudan dari naluri mempertahankan jenis
atau dalam bahasa Arab dikenal dengan gharizah al-nau’. Naluri ini jelas
berbeda dengan kebutuhan jasmani dalam soal pemenuhannya. Pemenuhannya untuk
kebutuhan jasmani mutlak dipenuhi. Seperti harus makan ketika lapar atau harus
minum ketika haus.
Lain halnya dengan naluri, pemenuhannya tidak mutlak.
Meskipun tidak dipenuhi, tidak akan menyebabkan kematian. Hal yang mungkin
timbul hanyalah gelisah. Akan tetapi, sebenarnya seseorang tidak perlu gelisah
ketika kebutuhan nalurinya tidak terpenuhi, karena kegelisahan dapat
berpengaruh pada kemampuan konsentrasi pikiran. Ketika seseorang gelisah,
pikiran akan terpecah-pecah.
Selanjutnya, mengenai asal pengaruh rangsangannya juga
berbeda. Kebutuhan jasmani ada dalam tubuh, sedangkan naluri dari luar. Oleh
karena itu, naluri mempertahankan jenis ini tidak akan meluap-luap jika belum
ada pengaruh dari luar.
Contohnya, seseorang tidak akan jatuh cinta kepada lawan
jenis bila ia tidak pernah tahu informasi tentang orang tersebut. Pada intinya,
tidak diperbolehkan mendasari perilaku atas nama cinta sehingga mengakibatkan
kelalaian terhadap aturan dari Allah dan rasul-Nya.
Mencintai dan dicintai adalah fitrah manusia. Pada umumnya,
tidak seorangpun di dunia ini yang tidak ingin dicintai. Manusia yang normal
tentu menginginkan kedua hal tersebut. Namun, yang menjadi persoalan ialah
tidak setiap orang mampu mengendalikan dan menyikapi rasa cinta yang ada.
Bahkan, tidak sedikit orang yang akhirnya diperbudak oleh cinta. Cinta
adakalanya kepada Allah dan rasul-Nya, kepada orang tua, sahabat, dan juga
kekasih. Lalu, kemana seharusnya cinta sejati itu ditujukan?
Sahabat Anas bin Malik pernah meriwayatkan hadis yang
artinya, “seorang lelaki yang berasal dari pedalaman bertanya kepada
Rasulullah. Bilakah berlakunya kiamat? Rasulullah bersabda: apakah persediaan
kamu untuk menghadapinya? Lelaki itu menjawab: cinta kepada Allah dan
rasul-Nya. Kemudian Rasulullah menjawab: kamu akan tetap bersama orang-orang
yang kamu cintai.” Cinta sejati, cinta yang suci adalah kepada Allah dan
rasul-Nya, bukan kepada yang lain. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa
dilarang mencintai kepada selain Allah dan rasul-Nya. Asalkan cinta tersebut
didasarkan pada dorongan cinta kepada Allah dan rasul-Nya, berarti itu
merupakan hal yang baik.
e) Mencintai Dunia
Satu hal yang menjadi kendala dalam usaha membangun kualitas
diri adalah menyamakan cinta dunia dan cinta kepada Allah. Padahal, kedua hal
tersebut merupakan sesuatu yang tidak dapat dipersatukan, seperti air dan
minyak.
Manusia diperbolehkan untuk hidup kaya dengan memiliki rumah
yang bagus, mobil dan harta yang melimpah. Namun, kekayaan tersebut tidak boleh
membuat hati terbelenggu kepadanya. Sehingga harta tidak menjaga pemiliknya
dalam beribadah, justru pemiliknya disibukkan dengan menjaga hartanya.
Sebaiknya, dunia ini dijadikan tempayan tempat setiap orang menyajikan amal
saleh sebagai wujud cinta dan pengabdian kepada Allah swt.
f) Cinta dan Sopan Santun
Cinta pada akhirnya dapat memberikan efek kepada setiap
orang yang merasakannya dengan sikap sopan dan santun. Mencintai sesungguhnya
adalah jalan bagaimana kita merawat, menjaga dan memberikan kesempatan untuk
berekspresi dengan baik kepada subjek yang dicintai. Di sinilah Allah menunjukkan
kepada kita bahwa kesopanan merupakan kesadaran bagaimana kita bisa merawat
subjek yang kita cintai itu. Itulah cinta yang luhur.
Tak sedikit orang yang menempatkan sesuatu atau orang yang
dicintainya sebagai objek kepemilikan yang bebas untuk dieksploitasi. Sungguh,
itu bukanlah cinta luhur yang akan memberikan keselamatan.
Santun adalah bukti dari rasa cinta kasih. Mencintai dan
mengasihi tidak cukup hanya dalam perkataan, tetapi mesti dinyatakan dalam
tindakan. Maka, sebaiknya cinta kasih dibuktikan dengan sikap santun dan
menghargai kepada sesama makhluk Tuhan. Dengan demikian, kehidupan sunnatullah
akan terjaga.
Pengertian Keadilan
Keadilan berasal dari kata adil yang berasal dari bahasa
Arab. Kata adil berarti tengah, Pengertian adil ialah memberikan apa saja
sesuai dengan haknya. Keadilan artinya tidak berat sebelah, menempatkan sesuatu
ditengah-tengah, tidak memihak, berpihak kepada yang benar, dan tidak
sewenang-wenang
Pengertian Keadilan secara umum yaitu suatu hal-hal yang
berkenaan pada sikap dan suatu tindakan dalam hubungan antar manusia yang
berisi sebuah tuntutan agar sesamanya bisa memperlakukan sesuai hak dan
kewajibannya.
Pengertian Keadilan Menurut Para Ahli
1. Aristoteles
Menurut Aristoteles menyatakan bahwa keadilan ialah sebuah tindakan
yang terletak diantara memberikan terlalu banyak dan juga sedikit yang bisa
diartikan ialah memberikan sesuatu kepada setiap orang yang sesuai dengan
memberi apa yang menjadi haknya.
2. Frans Magnis
Suseno
Menurut Frans Magnis Suseno menyatakan bahwa keadilan yaitu
suatu keadaan antar manusia yang diperlakukan dengan sama ,yang sesuai dengan
hak dan kewajibannya masing-masing.
3. Thomas
Hubbes
Menurut Thomas Hubbes menyatakan bahwa keadilan yaitu
sesuatu perbuatan yang dikatakan adil jika sudah didasarkan pada suatu
perjanjian yang telah disepakati.
4. Plato
Menurut Plato menyatakan bahwa keadilan ialah diluar suatu
kemampuan manusia biasa yang mana suatu keadilan tersebut hanya ada di dalam
sebuah hukum dan juga perundang-undangan yang dibuat oleh para ahli .
5. W.J.S
Poerwadarminto
Menurut W.J.S Poerwadarminto menyatakan bahwa keadilan yaitu
tidak berat sebelah yang artinya seimbang, dan yang sepatutnya tidak
sewenang-wenang.
6. Notonegoro
Menurut Notonegoro menyatakan bahwa keadilan yaitu suatu
keadaan yang dikatakan adil jika sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Implementasi hubungan manusia dengan keadilan dapat dibagi
menajdi :
- Keadilan Legal
/ Moral
- Keadilan
Distributif
- Keadilan
Komunikatif
i. Keadilan legal (iustitia
Legalis), yaitu keadilan berdasarkan Undang-undang (obyeknya tata masyarakat)
yang dilindungi UU untuk kebaikan bersama (bonum Commune).
Contoh:
Adalah adil kalau semua pengendara mentaati rambu-rambu
lalulintas.
Adalah adil bila Polisi lalu lintas menertibkan semua
pengguna jalan sesuai UU yang berlaku, tanpa membanding bandingkan pangkat
pelanggar tersebut.
Atau sama hal nya dengan adil bila semua gutu memberikan
bentuk perhatian yang sama tanpa membeda bedakan perlakuan maupun jabatan orang
tua anak tersebut.
ii. Keadilan Distributif
(iustitia distributiva) yaitu keadilan yang memberikan kepada masing-masing
orang apa yang menjadi haknya berdasarkan asas proporsionalitas atau
kesebandingan berdasarkan kecakapan, jasa atau kebutuhan.
Contoh:
Adalah adil kalau Amel mendapatkan promosi untuk menduduki
jabatan tertentu sesuai dengan kinerjanya selama ini.
Adalah tidak adil kalau Amel adalah seorang pejabat tinggi
yang koruptor memperoleh penghargaan dari presiden.
iii. Keradilan Komutatif
(iustitia commutativa) yaitu keadilan yang memberikan kepada masing-masing
orang apa yang menjadi bagiannya berdasarkan hak seseorang (diutamakan obyek
tertentu yang merupakan hak seseorang).
Contoh:
Adalah adil jika Amel harus membayar sejumlah uang kepada
Anka sejumlah yang mereka sepakati, sebab Anka telah menerima barang yang ia
pesan dari si Amel.
Setiap orang memiliki hidup. Hidup adalah hak milik setiap
orang,maka menghilangkan hidup orang lain adalah perbuatan melanggar hak dan
tidak adil
Kejujuran dan Kecurangan
Kejujuran atau jujur artinya apa yang dikatakan oleh
seseorang sesuai dengan hati nuraninya dan apa yang ia katakana adalah suartu
kebenaran. Jujur juga berarti menggambarkan bahwa hati seseorang tersebut
bersih dari perbuatan yang dilarang oleh ajaran agamanya. Adapun kesadaran
moral adalah misalnya kesadaran tentang diri seseorang tersebut dengan
dihadapkan oleh hal yang baik dan buruk dalam waktu bersamaan.
Di dalam kehidupan sehari hari jujur tidaknya seseorang
merupakan bagian hidup yang tidak dapat dipisahkan. Ketidakjujuran sangat lah
luas cakupannya, untuk mempertahankan sebuah kejujuran banyak cara yang bisa
dilakukan, dan yang paling mendasar adalah dnegan mendekatkan diri kepada sang ilahi.
Dan memupuk diri untuk selalu melakukan hal hal baik dan berlaku serta berkata
jujur.
Kecurangan
Artinya apalah apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hati
nuraninya. Orang yang sudah berbuat kecurangan dengan maksud untuk memperoleh
keuntungan atau materi bersrti hatinya telah kotor. Bagi orang yang melakukan
kecurangan akan mendatangkan kesenangan bagi dirinya sendiri walaupun
lingkungan sekitarnya mungkin merugi atau menderita.
Banyak faktor yang bisa mempengaruhi seseorang untuk bebuat
kecurangan, misalnya faktor ekonomi, faktor kebudayaan, faktor peradaban,
faktor trknik dan lain sebagainya.
Contoh sikap kejujuran dan kecurangan sangatlah banyak dalam
kehidupan sehari-hari, sebagai contoh nya misal :
- Ketika
seseorang misal bernama Amel diperintahkan ibunya untuk menjaga adiknya untuk
sementara waktu ibu pergi ke pasar. Jika Amel jujur, dia akan menjaga adiknya
sesuai dengan apa yang diamanahkan oleh ibunya. Namun jika Amel tidak jujur ia
akan menitipkan adiknya untuk bisa melakukan hal lain.
- Anka adalah
seorang karyawan yang mengelola kebutuhan harian SDM. Dalam suatu ketika ia
tertimpa musibah, motor Anka hilang. Semenjak kehilangan motornya itu Anka
selalu pulang pergi kerja dengan menggunakan angkutan umum, ini jelas membuat
ekonomi Anka membengkak. Dalam masa ini Anka akan sangat boros. Jiika Anka
adalah anak yang jujur beliau akan menabung untuk kembali membeli motor
tersebut dengan tetap menjalankan perkerjaannya dnegan amanah. Namun jika Anka
adalah anak yang curang, ia akan memberdayakan para karyawannya dan jabatannya
sebagai jembatan untuk membantu memperbaiki perekonomiannya (Anka memakai uang
yang dialokasikan untuk SDM) tersebut.
Banyak sekali contoh kejujuran dan kecurangan yang ada di
lingkungan masyarakat.
Semoga kita semua terhindar dari sikap kecurangan, jiwa yang
ingin berbuat tidak baik dan segala penyakit hati yang kelak akan mencelakakan
kita semua.
Komentar
Posting Komentar